Minggu, 10 Oktober 2010

Obama Nyaris Tertimpuk Buku


Obama Nyaris Tertimpuk Buku
Kalangan media massa AS mempertanyakan peran pasukan keamanan Presiden
SENIN, 11 OKTOBER 2010, 13:21 WIB
Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu
VIVAnews - Presiden Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sasaran penimpukan. Setelah George W Bush mengalami penimpukan sepatu di Irak, kini giliran Barack Obama yang nyaris jadi sasaran pelemparan buku di negaranya sendiri. Dia pun menerima demonstrasi dari seorang pria bugil.

Pada sebuah tayangan video yang bisa dilihat di laman YouTube, terlihat sebuah buku tebal melayang di belakang Obama yang saat itu tengah berdiri di atas podium. Beruntung, buku tersebut tidak sampai mendarat di kepala presiden kulit hitam pertama AS ini. Menurut harian Daily Mail, peristiwa itu terjadi di Kota Philadelphia, Minggu 10 Oktober 2010 waktu setempat.

Obama yang kala itu tengah melakukan kampanye partai Demokrat untuk pemilihan kongres tiga pekan mendatang, tampaknya tidak menyadari lemparan buku ke arah dia dan terus melakukan kampanye. Obama tampil bersama Wakil Presiden Joe Biden di tengah ribuan massa pendukung partai Demokrat di Germantown, Philadelphia.

Tidak jelas dari mana dan siapa pelempar buku tersebut. Namun kampanye Obama kali itu memang diwarnai dengan demonstrasi menentang kebijakan pemerintahnya. Pemerintahan Obama dinilai lambat dalam mengatasi pemulihan ekonomi dan meningkatnya angka pengangguran.

Salah seorang demonstran adalah seorang lelaki yang tanpa mengenakan sehelai benang alias bugil. Lelaki ini langsung digelandang polisi.

Terdapat coretan tulisan pada perut lelaki tersebut, namun wartawan tidak dapat melihatnya dengan jelas. Polisi terpaksa menggunakan bendera kampanye untuk menutupi kemaluan lelaki tersebut. Tidak dijelaskan apa maksud dan pesan yang ingin disampaikan di balik aksinya, juga belum dapat dipastikan apakah lelaki ini yang melemparkan buku atau bukan.

Insiden kedua yang menimpa kepala negara Amerika Serikat ini langsung menimbulkan kontroversi. Kalangan media massa AS mempertanyakan peran pasukan keamanan Presiden. Mereka mengatakan pasukan keamanan, yang seharusnya memberi perlindungan maksimal untuk presiden, berada terlalu jauh sehingga tidak dapat menangkal serangan yang datang.(ywn)
• VIVAnews

Tidak ada komentar: